Kamis, 05 April 2012

Pentingnya Memahami Sumber Hukum Islam Al-qur’an, Sunah, serta kehujahan Ijma, Qiyas,(Aqliah dan Naqliyah) guna Kehidupan


Pendahuluan
Segala puji hanya kepada Allah Tuhan semesta alam, dan kepadaNya jualah kita memohon pertolongan atas segala perkara dunia dan akhirat. Dan shalawat serta salamNya semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW Penutup para nabi, juga terhadap keluarga, sahabat sekalian. Dan tiada daya upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa.
“Ilmu Allah, SWT memang tak terjangkau oleh akal pikiran manusia namun dapat didekati melalui tanda-tanda yang telah diberikanNya melalui alam semesta ini. Pendekatan itu dapat dilakukan manusia, salah satunya dengan cara penguasaan ilmu pengetahuan. Ilmu ini diajarkan Allah Yang Maha Kuasa kepada manusia melalui akal (QS 96:5), dan ilmu tersebut digunakan untuk mengelola bumi dengan sebaik-baiknya (QS 2:30-31). Jadi ada suatu hubungan yang sangat erat antara ilmu dengan Hidup. Munculnya pandangan dari Al-Ghazali mengenai ilmu, yaitu ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap manusia (ilmu naqliah) dan ada pula ilmu yang hanya wajib dipelajari oleh masyarakat namun setiap orang tidak dijadikan suatu kewajiban (ilmu aqliah). Ilmu naqliah merupakan ilmu-ilmu dasar seperti matematika, sains alam, dan sains sosial serta ilmu syari’ah yang dikuasai sampai pada taraf tertentu. Penguasaan ilmu-ilmu dasar tersebut digunakan untuk mempertimbangkan mana yang benar dan mana yang batil, sehingga manusia tidak menyembunyikan suatu kebenaran jika ia mengetahuinya. Inilah komponen ilmu naqliah yang diperlukan untuk kehidupan, sedangkan tingkat penguasaan setiap orang yang merasa terpanggil untuk menjadi agamawan, ilmuwan, seniman maupun sastrawan yangingin endalami ilmu tanpa ada batasnya karena mereka memerlukan ilmu tersebut untuk penghidupannya.”
Demikian Sebagai abstrak dari kami, dalam membuka sebuah makalah karya tulis untuk melengkapai nilai pada semester 7 di sekolah tinggi ilmu pendidikan agama Islam STAISKA, Al-Karimyah Depok, dengan Kajian Sumber Hukum Islam, Aqliah dan Naqliah, dosen Pembimbing H. Khoerudin Muzahiq S, Ag.
Salam, Penyusun
Tulisan selengkapnya lihat di www.sugarpisan.com



 

Nash/teks Al-Qur’an dan Hadits dalam teori terbagi dua, qoth’i (pasti) dan dhonni (dugaan). Itu dipandang dari segi dalalah dan wurud (penunjukan makna dan datangnya) nash. Sedang nash qoth’i itu sendiri bisa digolongkan menjadi tiga: Kalamiyyah, Ushuliyyah, dan Fiqhiyyah.
Yang dimaksud kalamiyyah ialah naqliyah semata, dan dalam hal ini yang benar hanya satu. Maka barangsiapa yang melakukan kesalahan terhadap hal ini, ia berdosa. Nash jenis ini di antaranya tentang kejadian alam dan penetapan wajib adanya Allah dan sifat-sifatNya, diutusnya para rasul, mempercayai mereka dan mu’jizat-mu’jizatnya dan sebagainya. Kemudian apabila kesalahan seseorang itu mengenai keimanan kepada Allah dan rasul-Nya maka yang bersalah itu kafir, kalau tidak maka ia berdosa dari segi bahwa ia menyimpang dari kebenaran dan tersesat.
Adapun ushuliyyah adalah seperti ijma’ dan qiyas serta khabar ahad sebagai hujjah, maka masalah-masalah ini dalil-dalilnya adalah qoth’iyyah. Orang yang menyalahinya adalah berdosa.
Mengenai masalah fiqhiyyah yang termasuk keadaan qoth’i yaitu shalat 5 waktu, zakat, puasa, pengharaman zina, pembunuhan, pencurian, minun khamar/ arak dan semua yang diketahui secara pasti dari agama Allah. Maka yang benar dari masalah-masalah itu adalah satu, dan itulah yang diketahui. Sedang orang yang menyalahinya adalah berdosa.


AQIDAH AQLIYAH dan NAQLIYAH
yg Meliputi Sumber Hukum Islam Al-qur’an, Sunah, 
serta kehujahan Ijma, Qiyas

Kata-kata “Sumber Hukum Islam’ merupakan terjemahan dari lafazh Masâdir al-Ahkâm. Kata-kata tersebut tidak ditemukan dalam kitab-kitab hukum Islam yang ditulis oleh ulama-ulama fikih dan ushul fikih klasik. Untuk menjelaskan arti ‘sumber hukum Islam’, mereka menggunakan al-adillah al-Syariyyah. Penggunaan mashâdir al-Ahkâm oleh ulama pada masa sekarang ini, tentu yang dimaksudkan adalah searti dengan istilah al-Adillah al-Syar’iyyah.
 
Yang dimaksud Masâdir al-Ahkâm adalah dalil-dalil hukum syara’ yang diambil (diistimbathkan) daripadanya untuk menemukan hukum’. 

Sumber hukum dalam Islam, ada yang disepakati (muttafaq) para ulama dan ada yang masih dipersilisihkan (mukhtalaf). Adapun sumber hukum Islam yang disepakati jumhur ulama adalah Al Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Para Ulama juga sepakat dengan urutan dalil-dalil tersebut di atas (Al Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas).
Sedangkan sumber hukum Islam yang masih diperselisihkan di kalangan para ulama selain sumber hukum yang empat di atas adalah istihsân, maslahah mursalah, istishâb, ‘‘uruf, madzhab as-Shahâbi, syar’u man qablana. 

Dengan demikian, sumber hukum Islam berjumlah sepuluh, empat sumber hukum yang disepakati dan enam sumber hukum yang diperselisihkan. Wahbah al-Zuhaili menyebutkan tujuh sumber hukum yang diperselisihkan, enam sumber yang telah disebutkan di atas dan yang ketujuh adalah ad-dzara’i.  
Sebagian ulama menyebutkan enam sumber hukum yang masih diperselisihkan itu sebagai dalil hukum bukan sumber hukum, namun yang lainnya menyebutkan sebagai metode ijtihad
Islam telah melarang seorang muslim untuk bertaqlid dalam perkara aqidah, sebagaimana firmannya:

"Dan apabila dikatakan kepada mereka; 'Ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah', mereka menjawab;'(Tidak), tetapi kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami'. Apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek moyang mereka tidak mengikuti suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?" (al Baqarah:170).


Ayat ini menjelaskan bahwasanya aqidah tidak boleh dibangun berdasarkan taqlid (ikut-ikutan semata), melainkan harus melalui proses berpikir yang jernih.


Pengertian Aqidah Berdasarkan Istilah

Aqidah adalah pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan kehidupan, tentang Dzat yang ada sebelum kehidupan dunia dan alam yang ada sesudahnya, disamping hubungan ketiga unsur tadi _ alam semesta, manusia dan kehidupan _ dengan Dzat yang menciptakannya (Dirasaat fil Fikril Islamiy, Muhammad Husain Abdullah, hal.35).

Pemikiran yang menyeluruh ini mampu memecahkan 'uqdatul kubro (simpul/problematika besar) _ yakni pertanyaan tentang asal usul manusia, alam semesta dan kehidupan _. Setiap manusia yang sehat akalnya, pasti pernah bertanya mengenai hakikat keberadaan dirinya, seperti; dari mana asal muasal manusia itu, untuk apa manusia hidup dan apa yang akan dialaminya setelah ia mati? Begitu pula pertanyaan-pertanyaan seperti apakah alam semesta ini tercipta dengan sendirinya, atau ada yang menciptakannya? Keteraturan-keteraturan pergerakan alam semesta ini apakah berlangsung begitu saja tanpa ada yang mengaturnya, ataukah ada yang telah menatanya? Jadi yang dimaksud aqidah adalah pemecahan-pemecahan dasar yang dilontarkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar tadi. Apabila manusia memperolah jawaban yang memuaskan dan menenangkan hatinya, berbagai persoalan kecil/cabang lainnya dengan mudah mampu ia pecahkan.



Aqidah Shahih Lahir dari Proses Berpikir

Pemecahan yang benar itu tidak akan diperoleh kecuali dengan pemikiran yang cemerlang (fikrul mustanir), yakni pemikiran yang mendalam, mencakup hakikat segala sesuatu, termasuk hal yang berhubungan dengannya (Nidzamul Islam, Taqiyuddin an Nabhani, hal. 4). Bagi mereka yang menghendaki keselamatan kemuliaan hidup, terlebih dahulu harus memecahkan 'uqdatul kubro ini dengan benar. Pemecahan melalui fikrul mustanir inilah yang menjadi landasan berpikir bagi seorang manusia dalam mengarungi samudera kehidupan. Inilah yang dinamakan aqidah.

Islam telah memberikan jawaban terhadap masalah ini dengan jalan yang sesuai dengan fitrah, memuaskan akal serta memberikan ketenangan pada jiwa manusia. Islam telah menetapkan juga bahwa untuk memeluk agama ini amat tergantung sepenuhnya pada pengakuan terhadap pemecahan ini, pengakuan yang benar-benar muncul dari akal manusia. Siapapun yang memiliki akal mampu membuktikan _ melalui perantaraan benda-benda yang dapat dijangkau inderanya _ bahwa dibalik alam semesta, manusia dan kehidupan pasti terdapat Dzat yang menciptakan semuanya, yakni al Khalik. Oleh karena itu kita jumpai ratusan ayat di dalam al Qur'an yang telah mengajak kita untuk memperhatikan pada alam semesta ini, merenungkannya agar mampu membuktikan keberadaan Allah SWT.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang-orang yang berakal (uli albab)" (ali Imran:190)

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya adalah diciptakannya langi dan bumi serta berlainan bahasa dan warna kulitmu" (ar Rum:22)


"Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? dan bumi bagaimana ia dihamparkan?" (al Ghasysyiyah:17-20)


Dan ratusan ayat lagi yang tersebar dalam al Qur'anul Karim. Seluruhnya merupakan ajakan untuk melihat dan memperhatikan ciptaanNya. Ajakan ini agar dijadikan petunjuk akan adanya al Khaliq, sehingga imannya berdasarkan bukti dan dalil. Sehingga menumbuhkan iman yang mantap yang tidak akan tergoyahkan oleh siapapun dan oleh sebab apapun.


Dalil aqli dan Dalil Naqli

            Dalil aqidah terbagi pada dua macam; dalil aqliyah dan dalil naqliyah.

Aqliyah

Dalil aqliyah adalah dalil (bukti) yang diperoleh melalui akal lewat proses berpikir manusia sehingga seseorang akan membenarkan secara pasti rukun-rukun dalam aqidah. Adapun dalil naqliy _ atau disebut juga dalil sam'iy _ adalah berupa kabar/berita (khabar) yang pasti (qath'iy) yang memberikan keterangan pada kita tentang rukun-rukun aqidah. Contohnya adalah ayat-ayat al Qur'anul Karim (Dirasaat fil Fikril Islamiy, Muhammad Husain Abdullah, hal.36).


Tema-tema aqidah (rukun aqidah) yang dapat dijangkau melalui dalil aqliyah hanya tiga jenis, yakni:

a. Iman terhadap keberadaan Allah SWT. (wujudullah).
b. Iman terhadap kebenaran al Qur'an sebagai kalamullah (firman Allah)
c. Iman terhadap kenabian dan kerasulan Muhammad SAW.

Selain tema-tema ini, rukun iman lainnya hanya dicapai melalui dalil naqliy. Meskipun demikian secara tidak langsung keimanan seorang muslim tetap berdasarkan pada bukti (akal) dan dalil, karena dalil naqliy yang diimani tersebut keberadaannya adalah dari sisi Allah SWT yang telah dibuktikan melalui proses berpikir, yakni secara aqliy.

Walaupun manusia itu diwajibkan menggunakan akalnya untuk beriman terhadap Allah SWT. namun tidak mungkin akal manusia mampu menjangkau segala hal yang berada di luar batas kemampuan indera dan akalnya. Betatpun jeniusnya akal seseorang, tetap ia memiliki keterbatasan. Akal manusia hanya mampu membuktikan keberadaan Allah/eksistensi Allah, tetapi tidak mampu menjangkau hakikat Dzat Allah, karena Allah SWT. berada di luar tiga unsur yang bisa dijangkau akal manusia _ yakni alam semesta, manusia dan kehidupan.
Apabila iman kepada Allah SWT. itu dapat dicapai melalu akal _ sebagaimana seharusnya _ maka iman kepada Allah SWT. ini akan menjadi pijakan yang kuat bagi kita untuk beriman terhadap berbagai perkara yang ghaib dan segala seuatu yang dikabarkan oleh Allah SWT., baik perkara itu dapat dicerna pleh akal manusia atau tidak.

Berdasarkan hal ini, wajib bagi seorang muslim untuk beriman kepada hari akhir, keberadaan surga dan neraka, syetan dan para malaikat, karena perkara-perkara yang ghaib ini telah diterangkan seluruhnya dalam dalil-dalil naqliy yang qath'iy, yakni al Qur'an dan hadits-hadits mutawatir.

Dengan demikian wajib pula kita beriman kepada apa yang ada sebelum dunia ini berada, yakni Allah SWT., dan kepada kehidupan setelah dunia ini, yaitu akhirat. Apabila sudah diketahui bahwa penciptaan danperintah-perintah Allah SWT. merupakan pokok pangkal adanya kehidupan dunia, sedangkan perhitungan amal kehidupan manusia atas apa yang dikerjakannya di dunia ini harus terikat dengan hubungan tersebut. Oleh karena itu, manusia wajib meyakini bahwa ia akan dihisab di hari akhir nanti atas segala perbuatan-perbuatan yang dilakukannya di dunia. Dari sinilah telah terbentuk fikrul mustanir mengenai apa yang ada dibalik alam semesta, manusia dan kehidupan. Begitu juga terbentuk fikrul mustanir tntang apa yang ada sebeleum dan sesudah kehidupan dunia. Dan bahwasanya kehidupan tersebut memiliki hubungan antara apa yang ada sebelum dan sesudahnya
.


POTENSI AQLIYAH
Potensi aqliyah adalah potensi yang dianugerahkan Allah kepada manusia agar manusia dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil dan mampu berargumen terhadap pemilihan yang dilakukan oleh potensi ruhiyah.
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. QS. 16 : 78
Dalam ayat ini pemberian pendengaran, penglihatan dan hati dikaitkan dengan suatu keadaan yang melatarinya yaitu, lahir dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Disini jelas tersirat bahwa pemberian pendengaran, penglihatan dan hati merupakan sebuah jalan keluar dari keadaan manusia yang lahir dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun.

Lalu bagaimana pendengaran, penglihatan dan hati dapat menanggulangi keadaan lahir dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, dan apa hubungannya dengan kebebasan memilih?
Lahir dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun merupakan suatu yang ironi, karena jika manusia tidak mengetahui apa-apa maka bagaimana manusia dapat bebas dan mampu memilih? Pendengaran, penglihatan dan hati diberikan karena dengannya manusia dapat keluar dari keadaan tidak tahu menjadi tahu, tidak paham menjadi paham, tidak jelas menjadi jelas. Potensi aqliyah adalah potensi untuk belajar. Dengan demikian keberadaan pendengaran, penglihatan dan hati adalah untuk bisa mengetahui dengan jelas antara yang benar dan salah. Dengan adanya kejelasan antara benar dan salah, maka manusia kembali dapat menggunakan kebebasan memilih (QS. 2:256). Dengan adanya anugerah aqliyah, maka kebebasan manusia untuk menentukan pilihannya akan terpelihara.
Perlu dijelaskan juga di sini maksud dari keadaan tidak mengetahui apa-apa. Karena seperti sebelumnya diungkapkan bahwa kebebasan memilih dianugerahkan Allah sejak awal dengan sebuah pengilhaman fujur dan taqwa. Dengan demikian keadaan tidak mengetahui apa-apa memiliki pengertian:
1.    Manusia melupakan apa yang pernah dialaminya ketika masa di alam ruh. Melupakan bukan berarti memori dari apa yang telah dialami hilang tak ada lagi, melainkan masih ada. Memori ini muncul dalam bentuk ”insting” atau ”suara hati” pada manusia untuk lebih memilih sesuatu yang lebih baik, yang lebih besar, yang lebih menarik, yang lebih mulia.
2. Manusia tidak mengetahui sesuatu pun yang belum dialaminya, yaitu kehidupan di    dunia    (bumi) ini.
Lalu bagaimana pendengaran, penglihatan dan hati dapat memelihara kebebasan memilih pada manusia? Dan bagaimana caranya? Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa potensi yang dianugerahkan Allah ini adalah daya yang siap pakai. Hanya untuk memakainya manusia terlebih dulu harus mengenalnya, memahami bagaimana potensi itu berfungsi dan melatih bagaimana memfungsikannya.
Perhatikanlah ayat-ayat berikut.
Dan dialah yang Telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. amat sedikitlah kamu bersyukur.” 23:78
Demikian juga dalam ayat-ayat berikut 67: 23 dan 32: 9.
Yang dimaksud dengan bersyukur di ayat Ini ialah menggunakan alat-alat tersebut untuk memperhatikan bukti-bukti kebesaran dan keesaan Allah, yang dapat membawa mereka beriman kepada Allah s.w.t. serta taat dan patuh kepada-Nya.

Syukur sering diartikan dengan menempatkan sesuatu sesuai dengan peruntukannya, atau menggunakan sesuatu sesuai dengan fungsinya. Jadi dalam ayat-ayat di atas juga dapat diartikan sebagai berikut.

Dan dialah yang Telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. amat sedikitlah kamu mendayagunakannya (untuk menjalankan tugas, fungsi dan perannya).

Aqliyah merupakan fungsi intelek pada manusia. Aqliyah adalah potensi manusia untuk dapat memenuhi rasa ingin tahu yang didorong oleh adanya potensi ruhiyah: pengetahuan tentang benar dan salah secara instinktif.
Potensi Aqliyah merupakan fungsi intelek dari manusia, juga karena hal ini merupakan kemampuan untuk menyerap informasi, mengolahnya dan menyimpannya. Seperti yang diungkapkan Yaniyullah:
Secara leksikal, kata ’aqal merupakan sinonim bagi kata hija yang berarti pikiran, otak, dan alasan. Aqal juga berarti quwwah al idrak (daya yang dapat menangkap, mempersepsi, memahami dan mencerapi), qalbu (hati), al dzakirah (ingatan), al quwwah al ’aqilah (daya atau kekuatan yang dapat berpikir), al fahm (pengertian), al diyyat (diyat), al hishn (benteng) dan al malja (tempat berlindung).
Menurut Imam Al Ghazali, kata aql memiliki empat hakekat, yaitu pertama, sesuatu yang siap menerima pengetahuan teoritis dan mengatur kepandaian berpikir yang tersembunyi. Kedua, pengetahuan yang ada pada diri manusia sejak usia anak dapat menentukan yang mungkin bagi perkara yang mungkin dan mustahil bagi perkara yang mustahil. Pengertian ini, hematnya, sama dengan hati, yaitu perasaan yang halus (lathifah). Ketiga, pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman empririk. Dan keempat, kekuatan gharizah (insting) untuk mengetahui konsekuensi berbagai masalah dan menahan keinginan untuk mendapatkan kelejatan sesaat.

Berkaitan dengan hakekat ’aqal yang keempat menurut al Ghazali, Haris bin Asad al Muhasibi yang jalan berpikirnya mempengaruhi jalan berpikir al Ghazali berpendapat sama. Menurutnya ’aqal adalah gharizah (insting) yang diciptakan Allah pada mayoritas mahluk yang dapat dilihat dengan pandangan mata, tak dapat terjangkau dengan perasan alat indra dan tidak juga dengan alat indra pengecap rasa.

Aqal
 adalah cahaya halus yang bersifat ruhani yang dipancarkan ke dalam dimagh yang tempatnya di qolbu, yang dengannya diri dapat mengetahui ilmu yang dharuri dan nadhari. Akal juga merupakan cahaya dalam hati yang bisa membedakan yang haq dan yang bathil.
Adapun mekanisme kerja akal sampai bisa mengetahui ilmu dan membedakan antara yang haq dan yang bathil adalah :
1.  sensasi Sama’ dan bashor menangkap data
2.  persepsiàStimulus dari sama’ dan bashor diterima di dimagh
3. Dimagh mengolah stimulus tersebut di bawah sinar cahaya yang ada dalam qolbu
4. Fu’ad mencerna olahan tersebut sehingga menghasilkan kesimpulan benar atau salah
5. kesimpulan dari fu’ad disimpan atau dihujamkan ke dalam qolbu
6. hujaman pemahaman yang ada di dalam qolbu didorong oleh nafsun sehingga mewujudkan langkah

Kata-kata “Sumber Hukum Islam’ merupakan terjemahan dari lafazh Masâdir al-Ahkâm. Kata-kata tersebut tidak ditemukan dalam kitab-kitab hukum Islam yang ditulis oleh ulama-ulama fikih dan ushul fikih klasik. Untuk menjelaskan arti ‘sumber hukum Islam’, mereka menggunakan al-adillah al-Syariyyah. Penggunaan mashâdir al-Ahkâm oleh ulama pada masa sekarang ini, tentu yang dimaksudkan adalah searti dengan istilah al-Adillah al-Syar’iyyah.  

Yang dimaksud Masâdir al-Ahkâm adalah dalil-dalil hukum syara’ yang diambil (diistimbathkan) daripadanya untuk menemukan hukum’. 

Sumber hukum dalam Islam, ada yang disepakati (muttafaq) para ulama dan ada yang masih dipersilisihkan (mukhtalaf). Adapun sumber hukum Islam yang disepakati jumhur ulama adalah Al Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Para Ulama juga sepakat dengan urutan dalil-dalil tersebut di atas (Al Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas).

Sedangkan sumber hukum Islam yang masih diperselisihkan di kalangan para ulama selain sumber hukum yang empat di atas adalah istihsân, maslahah mursalah, istishâb, ‘‘uruf, madzhab as-Shahâbi, syar’u man qablana. 

Dengan demikian, sumber hukum Islam berjumlah sepuluh, empat sumber hukum yang disepakati dan enam sumber hukum yang diperselisihkan. Wahbah al-Zuhaili menyebutkan tujuh sumber hukum yang diperselisihkan, enam sumber yang telah disebutkan di atas dan yang ketujuh adalah ad-dzara’i.  
Sebagian ulama menyebutkan enam sumber hukum yang masih diperselisihkan itu sebagai dalil hukum bukan sumber hukum, namun yang lainnya menyebutkan sebagai metode ijtihad.  

Keempat sumber hukum yang disepakati jumhur ulama yakni Al Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas, landasannya berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Shahabat Nabi Saw Muadz ibn Jabal ketika diutus ke Yaman. 

عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ، قَالَ لَهُ:"كَيْفَ تَقْضِي إِنْ عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ؟"، قَالَ: أَقْضِي بِكِتَابِ اللَّهِ، قَالَ:"فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ؟"قَالَ: فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:"فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟"قَالَ: أَجْتَهِدُ رَأْيِي وَلا آلُو، قَالَ: فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدْرَهُ، وَقَالَ:"الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا يُرْضِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ".

 “Dari Muadz ibn Jabal ra bahwa Nabi Saw ketika mengutusnya ke Yaman, Nabi bertanya: “Bagaimana kamu jika dihadapkan permasalahan hukum? Ia berkata: “Saya berhukum dengan kitab Allah”. Nabi berkata: “Jika tidak terdapat dalam kitab Allah” ?, ia berkata: “Saya berhukum dengan sunnah Rasulullah Saw”. Nabi berkata: “Jika tidak terdapat dalam sunnah Rasul Saw” ? ia berkata: “Saya akan berijtihad dan tidak berlebih (dalam ijtihad)”. Maka Rasul Saw memukul ke dada Muadz dan berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah sepakat dengan utusannya (Muadz) dengan apa yang diridhai Rasulullah Saw”. 

Hal yang demikian dilakukan pula oleh Abu Bakar ra apabila terjadi kepada dirinya perselisihan, pertama ia merujuk kepada kitab Allah, jika ia temui hukumnya maka ia berhukum padanya. Jika tidak ditemui dalam kitab Allah dan ia mengetahui masalah itu dari Rasulullah Saw,, ia pun berhukum dengan sunnah Rasul. Jika ia ragu mendapati dalam sunnah Rasul Saw, ia kumpulkan para shahabat dan ia lakukan musyawarah. Kemudian ia sepakat dengan pendapat mereka lalu ia berhukum memutus permasalahan.  

Sumber hukum Islam berasal dari potensi-potensi insani dan sumber ilahi. Oleh karena itu, pada dasarnya, sumber hukum Islam adalah sumber Naqliyyah dan aqliyah. Penggabungan kedua sumber ini telah melahirkan sumber ketiga, yakni kasyfiyyah, yaitu kebenaran yang bersumber dari intuisi atau kebenaran intuitif. 

Walaupun sering dinyatakan, sumber hukum naqli yaitu al-Qur'an dan sunnah adalah sumber yang ditransmisi, sumber yang diterima melalui peraturan berkesinambungan. Pada hakikatnya, sumber naqli tersebut juga adalah sumber aqliyah. Kenyataan memang menunjukkan demikian.
Suatu upaya untuk menjamin bahwa al-Qur'an itu diperoleh secara naqliyyah ternyat memerlukan tiga metode: al-Tajribat al-Hissiyah (pengalaman empirik); al-Tawa’tur atau al-Mutawatirat atau transinited data (data yang di transmisi melalui periwayatan yang ketat), dan al-Istiqa, yaitu pengujian kebenaran sumber naqliyy secara induktif. 

Kita ketahui bahwa sumber hukum Islam itu ada yang naqliyah dan aqliyyah, dari ini timbul pertanyaan; bagaimana memahami sumber tersebut sehingga diketahui sumber yang petunjuk pelaksanaannya (di bidang hukum) merupakan suatu kepastian yang benar atau petunjuk yang samar-samar dan memungkinkan timbulnya keanekaragaman penafsiran dan praktek hukum.
Sejalan dengan sumber pengetahuan hukum Islam, yakni naqliyyah dan aqliyyah, maka pemahaman dan penafsiran atas sumber hukum Islam pun digunakan metode naqliyyah dan aqliyyah. Dengan demikian, metode-metode hukum Islam yang termasuk kategori naqliyyah meliputi; metode al-Qur'an, metode sunnah, metode ijma’, ialah pemahaman dan penggalian hukum Islam berdasarkan al-Qur'an.
A. Al-Qur'an
Allah Swt. memilih beberapa nama bagi wahyu-Nya, yang berbeda sekali dari bahasa yang biasa digunakan masyarakat arab untuk penamaan sesuatu. Nama-nama itu mengandung makna yang berbias dan memiliki akar kata. Diantara beberapa nama itu yang paling terkenal ialah al Kitab dan al Qur’an.

Secara etimologis, Al Qur’an berasal dari kata “qara’a”, yaqra’u, qiraa’atan atau qur’aanan yang berarti mengumpulkan (al jam’u) dan menghimpun (al dlammu) huruf-huruf serta kata-kata dari satu bagian kebagian lain secara teratur. Dikatakan Al Qur’an karena ia berisikan intisari dari semua kitabullah dan intisari dari ilmu pengetahuan. Allah berfirman :

“ Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (dalam dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kamu telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya”. (al Qiyamah [75]:17-18).

Secara terminologi al Qur’an menurut beberapa ulama adalah:
a. Ulama Ushul fiqh
“Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Dalam bahasa Arab yang dinukilkan kepada generasi sesudahnya secara mutawatir, membacanya merupakan ibadah, tertulis dalam mushaf , dimulai dari surat al fatihah dan ditutup dengan surat an Nas.  
b. Abdul Wahab Khalaf mendefinisikan al Qur’an sebagai firman Allah yang diturunkan
melalui ruhul amin (jibril) kepada Nabi Muhammad saw. Dengan bahasa Arab, isinya dijamin kebenarannya, dan sebagai hujjah kerasulannya, undang-undang bagi seluruh manusia dan petunjuk dalam beribadah serta dipandang ibadah dalam membacanya, yang terhimpun dalam mushaf yang dimulai dari surat al fatihah dan diakhiri dengan surat an Nas yang diriwayatkan kepada kita dengan jalan mutawatir 
c. Syaikh Muhammad Abduh mendefinisikan al Quran sebagai kalam mulia yang diturunkan oleh allah kepada Nabi yang paling sempurna (Muhammad) ajarannya mencakup keseluruha ilmu pengetahuan. Ia merupakan sumber yang mulai yang essensinya tidak dimengerti kecuali bagi orang yang berfjiwa suci dan berakal cerdas. 

Dari definisi tersebut dapat dinalisa bahwa al Qur’an memiliki unsur-unsur Yang menjadi ciri khas bagi al Qur’an, yakni :Al Qur’an merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Muhammad Saw. Tidak dinamakan al Qur’an seperti Zabur, Taurat dan Injil. Ketiga kitab tersebut memang termasuk kalam Allah tapi tidak diturunkan kepada nabi Muhammad sehingga tidak disebut al qur’an.  
Guna memahami al-qur’an dibutuhkan beberapa tata cara  
Metode Pemahaman Terhadap al-Qur’an
Metode pemahaman berdasarkan al-Qur'an ada empat peringkat. Peringkat pertama, ialah pemahaman, penafisran, dan penggalian hukum Islam dari al-Qur'an yang paling tinggi ialah pemahaman hukum dari al-Qur'an berdasarkan al-Qur'an itu sendiri. Peringkat kedua, ialah penafsiran dan penggalian hukum dari al-Qur'an berdasarkan sunnah. Peringkat ketiga, ialah pemahaman dan penggalian hukum dari sunnah. Peringkat ketiga pemahaman dan penggalian hukum dari al-Qur'an berdasarkan pemahaman dan penafsiran para sahabat Nabi, yakni mereka yang hidup sezaman dengan Nabi serta beriman dan bertaqwa. Peringkat keempat, ialah penafsiran dan penggalian hukum dari al-Qur'an berdasarkan penafsiran para tabi’in, yakni mereka yang hidup sezaman dengan Nabi serta beriman dan bertaqwa. Peringkat kelima, ialah penafsiran dan penggalian hukum dari al-Qur'an berdasarkan pendapat tabi’ al-tabi’in, yakni mereka yang hidup sezaman dengan tabi’in serta beriman dan bertaqwa. Metode penafsiran terakhir ini tidak disepakati para pakar hukum Islam. Peringkat terakhir adalah penafsiran dan pemahaman hukum dari al-Qur'an berdasarkan pendapat akal atau ijtihad.

Metode al-Qur'an dalam penggalian hukum sebagaimana diuraikan di atas merujuk kepada dua aliran dalam penafsiran al-Qur'an yakni metode al-Ma’thur dan al-Ra’yu atau al-Tafsir bima’thur wa al-tafsir bi al-Ra’y.

Penafsiran al-Qur'an aliran al-Ma’thur ialah suatu penafsiran al-Qur'an berdasarkan metode-metode.
1. Metode penafsiran berdasarkan penafsiran ayat dengan ayat lainnya dalam al-Qur'an;
2. Penafsiran berdasarkan apa yang dijelaskan Rasulullah SAW yang ia jelaskan kepada para sahabanya; 
3. Penafsiran para sahabat berdasar ijtihad.

Penafsiran dengan cara seperti dijelaskan di atas melewati dua fase. Fase pertama adalah fase penafsiran secara lisan yang disebut fase periwayatan (المرحلة الرائية). Dan fase ini terjadi periwayatan melalui transmisi penafsiran sahabat berdasarkan penuturan dari Rasulullah SAW pnafsiran sahabat kepada sahabat; transmisi penafsiran dari sahabat kepada tabi’in. Transmisi penafsiran ini dilakukan dengan ketat dan detail dengan selalu menyebut rujukan transmisi yang berkesinambungan atau isnad.

Fase kedua adalah adalah penafsiran dengan cara penulisan. Pada fase ini, penulisan dilakukan dengan menuliskan apa yang dinilai sebagai penafsiran yan salah pada fase pertama. Penafsiran cara ini pada mulanya terdapat dalam kitab-kitab hadist. Selanjutnya ditulis dalam kitab-kitab tafsir secar sendiri dengan menyebut periwayatannya hingga Rasul, sahabat, tabi’in, atau tabi’bal-Tabi’in. Penafsiran dengan metode al-Ma’thur mungkin tidak ada selain karya Ibn Jabir al-Thabari, Jami’u al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Tafsir ini bukan saja mengutip penafsiran berdasarkan riwayat, tetapi juga melakukan kritik serta melakukan tarjih atas pendapat-pendapat dalam penafsiran ayat al-Qur'an. Bahkan ia pun terkadang menjelaskan I’rab yang dianggap perlu. Kemudian ia pun melakukan pengalin hukum yang dimungkinkan dari ayat-ayat al-Qur'an yang ditafsirkan itu.
Bahkan penafsiran al-Ma’thur berikutnya sebagaimana terdapat dalam kitab tafsir idak lagi menyebut sandaran atau referensireferensi yang berkesinambungan (al-as’nid; jamak dari al-Isnad) atas pendapat-pendapat yang dikutipnya. 

Aliran penafsiran kedua yang disebut al-Tafsir bi al-Ra’y adalah bentuk penfasiran berdasarkan ijtihad. Penafsiran ini dilakukan oleh mufasir yang telah mengetahui bahasa Arab dengan sempurna, mengetahui asbabun nuzul, dan berbagai persyaratan sebagai seorang mufasir. Ada beberapa faktor yang melahirkan aliran al-Tafsir bi al-Ray yaitu terbentuk dan berkembangnya ilmu pengetahuan keislaman dengan lahirnya para ulama dalam berbagai bidang keilmuan. Setiap mufasir mempunyai kecenderungan sendirian dalam menafsirkan al-Qur'an sesuai dengan kedalaman ilmunya, umpamanya al-Zamakhsyari, al-Kashaf, al-Qurtubi sebagai pakar hukum menulis, al-Ja’mi’li Ahkaam al-Qur'an. Dalam kitab ini al-Qurtubi merinci hukum yang terkadang rumit. Demikian pula muffasir yang mempunyai spesialisasidi bidang lain, seperti filsafat, falak, kalam, dan sebagainya.
Keragaman dan spesialisasi ulama Islam di bidag keilmuan memperkaya khazanah metode-metode dan corak menggali hukum-hukum dari al-Qur'an. Oleh karenanya, muncul tafsir yang bercorak sufistik, bik sufisme teoritis maupun praktis; tafsir fiqhiyy tafsir al-Adaby al-Ijtima’yy, yaitu suatu tafsir dengan pendekatan kemasyarakatan katakanlah pendekatan sosiologis; tafsir ilmiyy yakni tafsir scientific atau ilmiah.

Metode al-Qur'an di bidang hukum Islam sejalan dengan metode tafsir fiqh yag muncul bebarengan dengan perkembangan tafsir bi al-Mathur. Apabila para sahabat tidak menemukan ketetapan hukum atas suatu kasus hukum mereka menanyakannya kepada Rasul. Jawaban atau keputusan Rasul atas kasus hukum tersebut dianggap sebagai bentuk tafsir bi al-Ma’thur sebagaimana pula ia d nilai sebagai bentukal Tafsir al-Fiqh. Demikian pula setelah Rasul wafat, para sahabat dan tabi’in melakukan ijtihad apabila dalam menentukan putusan hukum atas perkara yang dihadapinya tidk dijumpainya dalam al-Qur'an. Perkembangan metode penafsiran ini tumbuh berkembang sejalan dengan tumbuh dan berkembangnya ijtihad itu sendiri.

Perkembangan penafsiran al-Qur'an di bidang hukum berkembang selama dengan perkembangan aliran-aliran dalam Islam, seperti khawarij, syi’ah, dan sebagainya. Penafsiran atas ayat-ayat al-Qur'an pun berserakan dalam kitab-kitab fiqh dalam berbagai mazhabnya masing-masing.

Dari sudut lain, metode al-Qur'an yang dianut oleh para pakar hukum Islam ada dua aliran. Pertama, alirn literalisme, yakni aliran yang mengambil makna dan hukum dari al-Qur'an secara harfiyah. Kedua, aliran spiritualisme, yakni aliran yang menafsirkan ayat-ayat hukum secara metaforis atau ta’wil. Aliran ini melakukan penafsiran secara metaforik selama tidak bertentangan secara tekstual dengan ayat-ayat hukum lainnya. Aliran inilah yang kemudian menjadi pendukung kuat metde qiyas, dan al-Isthislah dibidang ushul
fiqh.

Aliran selain kedua aliran tersebut, ialah aliran yang menggabungkan formalisme dan literalisme dengan spiritualisme serta mempertimbangkan teori instuisme (kasyfiyyah). Katakanlah aliran spritualisme-sufistik, seperti yang di coba dilakukan Ibn Qayyim al-Jauziyyah.

Pembagian aliran filsafat hukum Islam pun, ditinjau dari segi metodologinya dapat dibagi atas dua aliran besar dan satu aliran sintesadari kedua aliran tersebut. Aliran pertama adalah aliran ahl al-Hadis yang dipelopori oleh Imam Malk Ibn Anas. Alran ini lebih mendahulukan pendapat ulama ahl al-Madinah dan athar sahabat ketimbang al-Ray. Aliran yang menganut kebalikan mazhab ini ialah aliran ahl a-Ray yang sering pula diseut aliran Irak dengan tokohnya Abu Hanifah.

Aliran yang melakukan sintesa dari kedua aliran terdahulu ialah Imam Muhammad ibn Idris al-Syafi’i. Salah satu cirinya ialah kesediaan al-Syafi’i menerima kehujjahan hadis mursal apabila dalam proses periwayatannya ada oknum Ibn Musayyab. Walaupun demikian, ada sebagian penulis yang memberi gelar kepadanya sebagai “pembela sunnah” (Na’sir al-Sunnah) sebagai lawan Ahl al-Ray.

Dari gambaran di atas, perkembangan kefilsafatan di bidang hukum Islam melalui dialektika yang kemudian membentuk suatu sintesa. Perkembangan ini seirama dengan perkembangan ilmu-ilmu agama Islam itu sepanjang perjalanan sejarahnya. Dengan demikian metode al-Qur'an melahirkan metode-metode lainnya, baik sunnah, ijma, qiyas dan metode-metode lainnya. Hal ini dimungkinkan keberadaannya oleh al-Qur'an itu sendiri. Di samping tentu saja perkembangan manusia itu sendiri.

B. Sunnah
Metode sunnah ialah suatu metode dalam menentukan suatu hukum berdasarkan sunnah Rasulullah SAW, baik ucapan, perbuatan, maaupun keputusannya. Akan tetapi, dalam perkembangannya metode ini seperti halnya metode al-Qur'an melewati perkembangan yang berjalan sejalan dengan ilmu pengetahuan dan zaman. Dalam penggunaan sunnah sebagai sumber hukum dan upaya-upaya interpretsinya, terdapat dua aliran. Pertama adalah aliran yang boleh dikatakan aliran literalisme. Aliran yang menafsirkan sunnah secara harfiyah. Kedua, aliran yang menafsirkan sunnah secara metafor yang dapat disebut spiritualisme. Aliran ini menganggap bahwa hadis-hadis Nabi dalam arti ungkpan yang sesuai dengan tingkatan kemampan intelektual dan kebudayaan masyarakat pada zamannya. Dengan demikian, untuk interpretasi masa kini diperlukan penafsiran dan pemahaman kontekstual. Boleh dikatakan bahwa al-Syatibi, penulis al-Muwa’faqa’t mewakili aliran ini.
Penafsiran atas sunnah rasul secara kontekstual adalah penafsiran dan perluasan makna atas makna-makna etimologis, atau perluasan makna secara lebih luas sesuai dengan ruang dan waktu. Dapat dinyatakan bahwa masalah perwakafan di Indonesia mungkin sekali termasuk kategori ni. Dalam kajian hukum Islam dalam kitab-kitab fiqh klasik, di jumpai istilah al-Habs untuk pengertian wakaf. Di zaman Rasul dan sahabat, belum ada istilah al-Waqf (wakaf). Di kala itu istilah yang muncul adalah al-Habs. Barulah di kemudian haitimbul istilah wakaf. Bahkanlebih jauh dari itu hadis Nabi hanya memberikan pengertian umum yang terkandung dalam teks hadis sedaqah jariyah ketika menjelaskan terputusnya amal anak Adam ketika ia meninggal dunia, kecuali tiga hal. Salah satu diantaranya adalah amal jariyah. Salah satu bentuk amal jariyah adalah wakaf. Institusi wakaf berdasarkan atas hadis yang berbunyi:

قَالَ (النبى) : إِنَّ شِئْتَ حَبِسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا غَيْرَعَلىَ أَنَّهُ لايُبَاعُ اصْلَهَا وَلاَ يُبْتَاعُ وَلاَ يُوْهَبً وَلاَ يُوْرَثُ.......

Hadis ini berkenaan dengan wakaf tanah Khalbar yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Umar. Persoalan yang menyangkut metode penafsiran sumber, baik secara harfiyah maupun secara maknawi, menimbulkan ijtihad sebagai metode hukum Islam. Ijtihad adalah upaya maksimum dalam upaya menggali hukum dari sumber-sumber nqliyyah dengan menggunakan penalaran rasional (‘aqliyyah).  

C. Ijma’
 Sumber hukum naqliyyah ada yang bersifat orisinal (Ashliyy) dan ada yang bersifat “tambahan” (taba’iyy). Sumber hukum naqliyyah yang bersifat “tambahan” ini ialah ijma’. Oleh karena itu, sering kali para pakar hukum Islam menyatakan bahwa sumber hukum ada tiga. Pertama al-Qur’an; kedua sunnah, dan ketiga ijtihad. Ijma’ sering kali disebut sebagai sumber hukum yang ketiga karena ijma’ merupakan sumber hukum naqliyah “tambahan”karena pada dasarnya bersumber pada al-Qur’an dan sunnah. Demikian pula sumber-sumber hukum Islam lainny, seperti qiyas istihsan, istislahdan sebagainya, tidak disebut sebagai sumber hukum Islam karena semuanya merupakan hasil ijtihad.

Perlu dicatat bahwa sumber ijma’ yang menjadi sumber hukum Islam mempunyai kekuatan yang tetap dan pasti (qat’iyy) ialah ijma’ salaf yang berkenan dengan apa yang disebut sesuatu yang diketahui sebaai pokok utama dalam ajaran agama atau yang disebut para pakar dan ulama Islam dengan sebutan: Maa ‘ulima diini bidl dloluroh.

Salah satu contoh ijma salaf yang dijadikan sumber hukum Islam yang berkualitas qath’iyy ialah ijma’ para sahabat dalam menafsirkan al-Qur'an surat Bani Isra’il ayat 78 yang berbunyi:
Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

Dalam ayat di atas dinyatakan bahwa ada tiga waktu shalat yang harus ditepati kaum muslimin dalam menunaikan kewajiban melaksanakan salat. Pertama, ketika tergelincir matahari لدلوك الشمس ; Kedua, ketika gelap malam إلى غسق الليل ; Ketiga, waktu subuh الفجر apabila dilihat sekilas dapat disimpulkan bahwa kewajiban melaksanakan salat berdasarkan al-Qur'an bukanlah lima kali (waktu), tetapi tiga kali (waktu), seperti dalam ayat di atas. Akan tetapi, salaf telah berijma’ bahwa yang diaksud dengan kalimat. Akan tetapi, salaf telah berijma’ bahwa yang dimaksud dengan kalimat لدلوك الشمس dalam ayat tersebut ialah salat dhuhur dan asar. Sementara kalimat dimaksudkan salat magrib dan isya’. Dengan demikian, salaf berijma’ dalam menafsirkan salat lima aktu bukan saja berdasarkan sunnah, tetapi juga berdasarkan al-Qur'an sebagai sumber pertama dan utama dalam hukum Islam. Ijma’ salaf tersebut diatas berdasarkan pula kepada sunah Rasul yang menyatakan bahwa kewajiban salat itu adalah lima kali sehari-semalam. Sementara raktiknya harus mengikuti sebagaimana dicontohkan oleh R asulullah saw.

Sumber hukum kewajiban salat lima kali dari sunnah, antara lain. Sabda Rasulullah saw, sebagai berikut:
مَشَلُ الصَّلَوَاتِ الخَمْسَ كَمَثَلِ نَهْرِ عَذْبِ عَلَى بَابِ

اَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ فِمَا يَبْقَى ذَلك مِنَ الدَنْسَ
Artinya: Salat lima waktu itu bagaikan sungai yang airnya bersih dan jernih yang disetiap pintu rumahmu. Penghuni rumah itu mandi di sungai itu lima kali sehari semalam sehingga tidaklah terdapat sedikitpn kotoran.

Ijma’ sebagai sumber hukum, dalam perkembangannya,dapat bersifat qath’iyseperti contoh diatas dapat bersifat relatif atau zanny. Ijma’ yang bersifat zanny ialah ijma’ yang dilakukan oleh mutaakhirin. Oleh karena itu, ijma’dalam pengertian ini sering kali didefinisikan sebagai berikut:
الإجْمَاعُ هُوَ اتِّفَاقُ المُجَتَهِدِيْنَ مِنَ الأُمَةِ الاسْلاَميَّة فِي عَصِْر

مِنَ الْعُصُوْربَعْدَ النَبِّي ص.م. عَلَى حُكْمٍ شَرْعٍّى فِى اَمِْرمِنَ الامُوْرِ

Artinya: Ijma’ ialah kesepakatan para mujtahid muslim pada waktu tertentu setelah wafat Nabi saw, tentang suatu hukum Islam yang berkenaan dengan hukum praktis.

Ijtihad ialah sumber hukum hukum Islam, dan tentu saja sumber kebenaran aqliyah yang dihasilkan berdasarkan penalaran rasional yang tetap mengacu kepada sumber-sumber naqliyah. Sumber hukum yang dihasilkan berdasarkan penalaran rasional seperti tersebut diatas yang paling banyak disepakati ialah Qiyas. Akan tetapi, ada pula beberapa metode untuk menghasilkan sumber hukum ‘aqliyyah ini seperti: istihsan, istishab, dan sebagainya. Sumber-sumber hukum tersebut pada hakikatnya sama, yakni suatu sumber hukum yang dihasilkan berdasarkan ijtihad yang tingkat kebenarannya relatif. Bahkan perlu dicatat bahwa sumber-sumber hukum aqliyyah ini umumnya hanya berkenaan dengan hukum-hukum praktis di bidang mu’amalah.

Sumber hukum intuitif atau kashfiyyah hanya mungkin diperoleh oleh orang yang mengetahui hukum Islam serta mengamalkannya;baik hukum ibadah maupun mu’amalah. 

Ijma’ dalam pengertian bahasa memiliki dua arti. Pertama, berupaya (tekad) terhadap sesuatu. disebutkan أجمع فلان على الأمر berarti berupaya di atasnya.  

Sebagaimana firman Allah Swt:
“Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu. (Qs.10:71)
Pengertian kedua, berarti kesepakatan. Perbedaan arti yang pertama dengan yang kedua ini bahwa arti pertama berlaku untuk satu orang dan arti kedua lebih dari satu orang.
Ijma’ dalam istilah ahli ushul adalah kesepakatan semua para mujtahid dari kaum muslimin dalam suatu masa setelah wafat Rasul Saw atas hukum syara.  

 Adapun rukun ijma’ dalam definisi di atas adalah adanya kesepakatan para mujtahid kaum muslimin dalam suatu masa atas hukum syara’ . 
‘Kesepakatan’ itu dapat dikelompokan menjadi empat hal:

1. Tidak cukup ijma’ dikeluarkan oleh seorang mujtahid apabila keberadaanya hanya seorang (mujtahid) saja di suatu masa. Karena ‘kesepakatan’ dilakukan lebih dari satu orang, pendapatnya disepakati antara satu dengan yang lain.

2. Adanya kesepakatan sesama para mujtahid atas hukum syara’ dalam suatu masalah, dengan melihat negeri, jenis dan kelompok mereka. Andai yang disepakati atas hukum syara’ hanya para mujtahid haramain, para mujtahid Irak saja, Hijaz saja, mujtahid ahlu Sunnah, Mujtahid ahli Syiah, maka secara syara’ kesepakatan khusus ini tidak disebut Ijma’. Karena ijma’ tidak terbentuk kecuali dengan kesepakatan umum dari seluruh mujtahid di dunia Islam dalam suatu masa.
3. Hendaknya kesepakatan mereka dimulai setiap pendapat salah seorang mereka dengan pendapat yang jelas apakah dengan dalam bentuk perkataan, fatwa atau perbuatan.

Kesepakatan itu terwujudkan atas hukum kepada semua para mujtahid. Jika sebagian besar mereka sepakat maka tidak membatalkan kespekatan yang ‘banyak’ secara ijma’ sekalipun jumlah yang berbeda sedikit dan jumlah yang sepakat lebih banyak maka tidak menjadikan kesepakatan yang banyak itu hujjah syar’i yang pasti dan mengikat. 

Syarat Mujtahid
Mujtahid hendaknya sekurang-kurangnya memiliki tiga syarat:
Syarat pertama, memiliki pengetahuan sebagai berikut:
1.    Memiliki pengetahuan tentang Al Qur’an.
2.    Memiliki pengetahuan tentang Sunnah. (memiliki pengetahuan tentang ushul fikih)
3.    Memiliki pengetahuan tentang masalah Ijma’ sebelumnya. , (Menguasai ilmu bahasa)
Selain itu, al-Syatibi menambahkan syarat selain yang disebut di atas, yaitu memiliki pengetahuan             tentang maqasid al-Syariah (tujuan syariat). Oleh karena itu seorang mujtahid dituntut untuk memahami maqasid al-Syariah. Menurut Syatibi, seseorang tidak dapat mencapai tingkatan mujtahid kecuali menguasai dua hal: pertama, ia harus mampu memahami maqasid al-syariah secara sempurna, kedua ia harus memiliki kemampuan menarik kandungan hukum berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya atas maqasid al-Syariah.
Kehujjahan Ijma’
Apabila rukun ijma’ yang empat hal di atas telah terpenuhi dengan menghitung seluruh permasalahan hukum pasca kematian Nabi Saw dari seluruh mujtahid kaum muslimin walau dengan perbedaan negeri, jenis dan kelompok mereka yang diketahui hukumnya. Perihal ini, nampak setiap mujtahid mengemukakan pendapat hukumnya dengan jelas baik dengan perkataan maupun perbuatan baik secara kolompok maupun individu. 

Selanjutnya mereka mensepakati masalah hukum tersebut, kemudian hukum itu disepakati menjadi aturan syar’i yang wajib diikuti dan tidak mungkin menghindarinya. Lebih lanjut, para mujtahid tidak boleh menjadikan hukum masalah ini (yang sudah disepakati) garapan ijtihad, karena hukumnya sudah ditetapkan secara ijma’ dengan hukum syar’i yang qath’i dan tidak dapat dihapus (dinasakh).  

D. QIYAS
Qiyas artinya menggabungkan atau menyamakan artinya menetapkan suatu hukum suatu perkara yang baru yang belum ada pada masa sebelumnya namun memiliki kesamaan dalah sebab, manfaat, bahaya dan berbagai aspek dengan perkara terdahulu sehingga dihukumi sama.
Dalam Islam, Ijma dan Qiyas sifatnya darurat, bila memang terdapat hal hal yang ternyata belum ditetapkan pada masa-masa sebelumnya

            Rukun Qiyas ada empat;

1.    Asal (pokok), yaitu yang menjadi penggabung atau penyama
2.    Far'un (cabang), yaitu yang gabung atau disamakan
3.    Illat, yaitu sebab yang menggabungkan pokok dengan cabangnya

           
Kesimpulan

Menurut Imam Al-Ghazali lagi, ilmu pengetahuan itu wajib hukumnya dipelajari oleh  masyarakat      artinya tidak wajib dipelajari oleh tiap anggota masyarakat, melainkan oleh sebagian orang saja yang memiliki kemampuan mempelajarinya. Tingkat wajib seperti itu dinamakan fardu kifayah. Dari sekelompok masyarakat tertentu harus ada sekurang-kurangnya yang dapat mengobati orang yang sakit, harus ada sekurang-kurangnya satu orang yang dapat membantu ibu yang akan melahirkan, dan seterusnya., maka dari itu pentingnya mempelajari dan memahami Sumber hukum naqliyyah ada yang bersifat orisinal (Ashliyy) dan ada yang bersifat “tambahan” (taba’iyy). Sumber hukum naqliyyah yang bersifat “tambahan” ini ialah ijma’. Oleh karena itu, sering kali para pakar hukum Islam menyatakan bahwa sumber hukum ada tiga. Pertama al-Qur’an; kedua sunnah, dan ketiga ijtihad. Ijma’ sering kali disebut sebagai sumber hukum yang ketiga karena ijma’ merupakan sumber hukum naqliyah “tambahan”karena pada dasarnya bersumber pada al-Qur’an dan sunnah. Demikian pula sumber-sumber hukum Islam lainny, seperti qiyas istihsan, istislahdan sebagainya, tidak disebut sebagai sumber hukum Islam karena semuanya merupakan hasil ijtihad. Sebagai SUMBER ILMU untuk Kehidupan.


            
             DAFTAR PUSTAKA

"Usul Fiqh", oleh A. Hanafie, M.A., Cetakan ketiga 1962, halaman 128-140

Abdul Wahhab al-Khallaf, ‘ilmu Ushul Fiqh, Kuwait: Dar al-Qalam, 1978.

Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh, jilid 2.

Abu Ishaq al-Syatibi, al-Muwafaqat fi ushul al-Syariah.

Fathurrahman Djamil, Filsafat Hukum Islam, Ciputat: Logos Wacana Ilmu, 1999.

Juhaya S. Praja, Filsafat hukum Islam.

Muhaimin, Drs, MA, “Dimensi-dimensi Studi Islam”, Karya Abditama, Surabaya, 1994.

Manna Khalil al-Qattan Mabahist fi ulum alQur’an diterjemahkan oleh Drs, Muzdakkir As dalam “Studi Ilmu-Ilmu Al Qur’an” Litera Antar Nusa, Jakarta, 1987.

Subhi as shalih, Dr. “Mabahis fi Ulumil-Qur’an”, Darul- Ilm Lil-Malayin, Beirut, Libanon

Syafe’I, Rachmat , Prof,Dr,MA,”Ilmu Ushul FIqf”,CV.Pustaka Setia, Bandung,1999.

Wahbah al-Zuhaili, Ushul Fiqh al-Islami.

Sumber terkait : wilkipedia.com


0 komentar:

Poskan Komentar

kumpulan blog